Dunia Yaya

Jumat, 09 Februari 2018

Jujurlah Pada Diri
Hanya mau bilang ini:
Jika bisa jujur pada diri sendiri, maka akan mudah jujur pada orang lain.

Jujurlah, karena itu adalah harta berhargamu. Karena saat sebuah perkataan diiringi dengan sebuah kebohongan, yakinlah perkataan selanjutnya akan dibalut dengan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Tidak capekkah berada dalam jubah kebohongan?. Bukankah lebih lega membuka segala hijab dari kata-kata?. Jujur itu memang sederhana, tetapi tidak sesederhana dilakukan. Hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bisa yakin bahwa ada Allah yang selalu mengetahui kebenaran dari yang dilakukan. Juga hanya bisa digerakkan pada mereka yang bisa jujur pada dirinya sendiri. Banyak yang berkata bisa jujur, tetapi untuk jujur ke dirinya sendiri, mengakui dirinya, mengakui perbuatannya, berdialog dengan hatinya, tidak bisa mereka lakukan. Bagaimana bisa jujur pada orang lain?. Kalau dirinya saja ingin dia tipu?.

Kamis, 08 Februari 2018

Tentang Setia

Dari Tinta Kalam:

Tidak ada kesetiaan yang dipaksakan.
Karena kesetiaan datangnya dari hati.
Dari hati yang ingin memperjuangkan.
Dari hati yang ingin mempertahankan.
Dari hati yang ingin menjaga.
Jangan paksakan dia untuk setia.
Karena kesetiaan itu bukanlah permintaan tapi pemberian.
Saat dia sudah benar-benar memberikan hatinya.
Saat dia menjadikan kita bukan sebuah pilihan namun satu-satunya.
Dan saat dia menjadikan kita tujuannya.


Hmm.... mengernyit membaca sekelumit kata itu. Singkat tetapi benar bisa menyungkil sedikit sensitivitas. Iya, mestinya begitulah setia. Bukan sebuah variabel yang mesti diminta dari seseorang, tetapi sebuah variabel pemberian. Jika benar dia setia, tak perlu kita yang memintanya setia atau tidak pergi. Dia-lah sendiri yang akan melakukannya. Sebab kapan diminta, kesetiaan bukanlah sebuah setia. Berarti pula, kala seseorang pernah berjanji lalu mengingkari sendiri kata-katanya, jangan minta dia untuk setia dan tidak pergi. Kalau benar dia ikhlas sejak awal, dia akan setia memegang kata-katanya. Bukan malah mencari pembenaran. pembelaan, dan permohonan. 

Ketika kelak kau telah punya pasangan yang halal, ingatlah ini: Setia bukan diminta, tetapi diberi.
Piknik Dadakan
Syukran bu Dekan telah mengajak kami jalan-jalan sore menikmati suasana pinggir laut ala pelabuhan Tanjung Ringgit Palopo. Meski lahir disini, dan sudah kembali lagi ke sini, tetapi yang namanya ke pelabuhan mungkin belum cukup 5x sepanjang hidup. Parah kan...?. Kalau nggak salah hitung, kali ini baru ke-empat kalinya :D. Emang bukan anak pelabuhan atau anak suka nongkrong. Hmm.. sebenarnya ada frame yang terlintas, tetapi kayaknya tak penting tuk dibahas dan dikenang wkwkwkwk... okelah, kembali ke laptop.

Ceritanya siang kemarin lagi asyik berdua dengan salah satu teman Dosen anak Archi. Karena biasanya kami berdua yang menguasai ruang dosen, jadinya kami heboh berdua sambil memeriksa hasil ujian dan tugas mahasiswa sambil cerita banyak hal. Tetapi lebih banyak bercerita tentang mahasiswa jaman old dan mahasiswa jaman now yang keblinger banget. Kalau mengingat kami yang juga pernah mengenyam bangku kuliah, dengan mereka rasanya kami tidak se-cengeng mereka yang ketika diberi tugas ngeluhnya minta ampun, pake nawar pula. Sudah nawar, ngeluhnya lagi bertebaran di sosmed, dan lucunya lagi ngeluhnya pas malam sebelum tugas dikumpul. Ya iyalah capek kalau kebut semalam begitu. Ya tentulah tembus pagi kalau gaya kerja tugasnya begitu. Juga dengan rasa acuh mereka dengan kuliah. Bayangkan ujian semester, seolah tak ada beban. Waktu yang kadang disediakan 90 menit mereka cuma pakai paling lama 40 menit. Apalagi kalau pengawasnya yang killer kayak kami hahaha.. mereka hanya duduk bengong terdiam dan justru balik mengawasi kami. Kemana langkah kaki kesitulah mata mereka mengarah. Sebenarnya yang jadi pengawas siapa sih? :D. 

Belum lagi ada yang ujiannya mesti diulang karena miskomunikasi. Sudah diinfokan ujian ulang, eh malah balas bilang semua sudah pada pulkam. Emang gue pikirin. Mungkin itu ingin kukatakan secara langsung tapi tetap saja urung kukatakan. Masih berusaha lowes. Lha namanya mahasiswa emang gitu kali. Makanya kalau selesai ujian jangan langsung pulkam, cari info dulu, kali aja ada yang perlu dibenerin. Dan kalaupun sudah di kampung trus ada yang urgen, susah napa tuk balik. Kami juga begitu kok, bahkan meski kampung kami dengan tempat merantau masih lebih jauh Palopo-Makassar, tetap saja balik lagi, ikhlas nggak ikhlas. ya emang begitu namanya kuliah, akan selalu siap berkorban. Satu hal lagi, masalah nilai. Kami, bahkan mendapatkan nilai C atau D atau bahkan E itu sudah biasa. Emang harus bisa mengukur kemampuan dan usaha baru boleh bermimpi dapat nilai apa. Jangan usahanya nol trus berharap dapat nilai A. itu apa namanaya kalau bukan ngimpi?. Trus sudah malasnya bikin puyeng, kepedeannya dapat nilai tinggi juga keblinger. Apalagi pada mereka yang bangga dengan status senior. Dikiranya kalau sudah senior dan mengulang mata kuliah bakal langsung lulus. Ohhh.. jangan dulu...  kami juga kalau ngulang mesti ekstra juga loh ya. Berani ngulang artinya berani menambah usaha ekstra 2x lipat. nah loh, kok say lagu curhat dan bahas nyerong lagi. heheheh.. maapkeun.....

Saat kami berdua lagi asyik ngobrol, datanglah ibu dekan ngajak cerita trus ngajak jalan sore. yuhuuu.. makasih bu. Emang kami lagi layak diajak piknik. Butuh refreshing, butuh penyegaran, dan butuh dunia luar. Dan... meski sempat was-was apakah ajakannya jadi apa nggak, mengingat beliau terlalu serius ngobrol dengan kaprodi, tetapi alhamdulillah beliau ingat juga. Berangkatlah kami......

Semilir angin sore menerpa wajah lelah kami. Ombak yang lumayan keras menghantam pinggiran pembatas. Apalagi air laut sedang pasang, menambah suasana sekitar pelabuhan seolah diterjang ombak dan angin kencang. Di sebuah bagian sekumpulan anak sekolah yang riuh bersama gerombolannya. dan ternyata mereka baru saja menikmati air laut dengan mandi dipinggirannya. Apa nggak geri ya, suasana air laut yang begitu tetapi berani mandi. Saya yang emang lagi butuh banget piknik dan terkagum-kagum dengan suasana sore, memilih berjalan mendekati pinggiran laut dan mengambil beberpa gambar. Sebenarnya punya maksud hati untuk selfie sih, cuma masih punya malu dilihat sama anak ABG yang lg bergerombol dan paling penting adalaha, malu dilihat sama bu dekan hahahahaha..... :D :P.

Fabiayyi alaa irabbikumaa tukatstsibaan......
Maha besar Engkau ya Rabb atas segala indah ciptaan-Mu. Kota ini ternyata sangat indah. Maha karya-Mu sangat mengagumkan memandang kota kecil ini dari tepi laut. Ah iyya, bahagia itu benar punya aneka bentuk. Ada bahagia yang kuinginkan, tetapi menurut Allah bahagia begini yang mesti kudapatkan. Tak ada yang kurang, semua justru sempurnah. Dengan suasana yang indah, pemandangan yang mengagumkan. Dengan orang sekitar yang bersahabat. Dengan tanpa perasaan bersalah. Plong dan lepas.. tanpa beban. Satu hal yang kusimpulkan saat balik pulang, kuaminkan dalam hati sambil tersenyum. 
"Benarlah bahwa saat kita meninggalkan sesuatu karena Allah, atau ditinggalkan sesuatu oleh Allah, yakinlah akan kembali sesuatu itu kepadamu dengan cara yang berbeda, namun dengan rasanya yang lebih indah. Bahagia tanpa kamuflase. Bahagia yang tanpa kewaspadaan".
*Allah maha baik*
*070218*

 
 
 
 
 
 

Senin, 05 Februari 2018

Filosofi "Barongko"
Katanya, kue khas asal Sulawesi Selatan ini, bukan hanya sekedar enak saja, tetapi memiliki filosofi dibalik kekhasannya sebagai kue. Dahulu, kue ini menjadi hidangan untuk raja-raja, dan juga hidangan saat adanya pesta. Orang Sulsel, tentu tahulah kue ini. Bahan utamanya adalah pisang, dicampur dengan gula, santan, dan susu. kemudian dibungkus kembali dengan Daun dari tanaman yang sama dengan bahan dasarnya yaitu daun pisang. Dan kue ini akan enak jika memnag menggunakan daun pisang, ada wangi tersendirinya. Karena itulah, pada dasarnya ada filosofi di baliknya.

Kita tahu bahwa kue Burongko bahan dasarnya adalah buah pisang yang masak, Jika orang baru melihat kue ini, tentu akan bertanya-tanya apa isinya?. Ternyata isinya sudah digambarkan melalui bungkusnya. Lalu saat mencicipi rasanya, wangi dari daun pisang berpadu dengan bahan-bahannya akan membuat cita rasa yang enak dan bisa menggoyang lidah. Tak jarang orang akan langsung mengagumi keenakan makanan ini. Masya Allah, enak banget. maka pesan moral dari filosofi kue ini digambarakan dalam kata-kata:
Say what you feel. Do what you say. feel what you do.
Katakan apa yang kamu rasakan. Lakukan apa yang kamu katakan. Rasakan apa yang kamu lakukan.
Ini mengajarkan untuk tidak munafik melakukan, merasakan, dan mengatakan sesuatu. Katakan saja apa yang dirasakan, jangan disembunyikan, apalagi membuat forum cerita belakang. Dari yang dikatakan itu, lakukanlah. Jangan sibuk berkata-kata sampai melumer sana-sini, namun sayangnya hanya sebatas retorika aatau pencitraan. Sekedar mencari muka. Padahal diri sendiri tidak melakukannya. Kemudian dari apa yang dilakukan tersebut, buatlah citarasa yang enak. Hadirkanlah rasa. Akan terasa hambar sebuah perbuatan, tanpa diiringi dengan perasaan dan pemahaman. Bukankah memang karena tanpa pemahaman, sebuah pengetahuan hanya sebatas hafalan?. Dan juga karena itulah banyak orang yang tahu tetapi tidak melakukan apa yang diketahui. Tahu tentang kebaikan, tetapi karena tidak dipahami, akhirnya hanya sebatas tahu, tidak jatuh dalam paham. Itulah kenapa feelnya hilang. 

Sebenarnya tentang ini, Allah telah melukiskannya sejak ribuan tahun lalu dalam Al-Qur'an Surah As-Shaff ayat 2 - 3:

يـاَيـُّهَا الَّذَيـْنَ امَنُوْا لِمَ تَـقُوْلُـوْنَ مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. كَـبُرَ مَقْتـًا عِنْدَ اللهِ اَنْ تَـقُوْلُـوْا مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. الصف:2-3

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. [Ash-Shaff : 2 – 3]

Minggu, 04 Februari 2018

Ahad Pagi 4118
Pagi ini...
Adami kutemani jalan 😃. Sponsor juga bukan cuma satu, ada freshc*re, bubur kacang ijo, dan bibbi'. Berjalan kaki tanpa alas, entah seberapa jauh.
Thanks for today Sahma Wati dan Baiq Asiani. Semoga di kesempatan lain bisa ikut juga ELma Susanti dan Ririn Ariswan 😊.
*Allah maha Baik*
*Jangan Lupa Bahagia*
"Bahagia itu Sederhana*




Gerimis
Entahlah kenapa gerimis menyapa sore ini. Meski siangnya hujan deras mengguyur bumi, namun yang tersisa hanya genangan. tak ada kenangan. Mungkin karena sibuk berdialektika dengan kesibukan. Saat duduk di tempat itu, gerimis pun mengundang. Agak risih sih, mungkin ada yang sempat lihat kalau gerimis menghiasi dan sebentar lagi guyuran hujan akan membasahi. Sebenarnya ada apa? Kenapa lagi?.

Rasa lelah yang mendera hari ini. Sebaiknya saya tidak mengeluhkan ini. Harusnya saya bekerja saja sesuai dengan apa yang harusnya dilakukan. namun sebagai manusia, ada titik dimana tubuh pun menjerit butuh dimengerti. Karena terkadang makan sudah dikesampingkan, bahkan minum terlupakan, istirahat dibuang, dan tubuh benar-benar dipaksa beraktivitas di luar kebiasaannya. Saya mesti mengeluh pada siapa? Mesti meminta tolong pada siapa? mesti minta bantuan pada siapa?. Tidak mungkin kan menyuruh pimpinan untuk melakukan kerja-kerja itu?. Meski secara tanggung jawab harusnya saya tidak sendiri memikul semuanya. Maka lebih baik melakukan semuanya saja. benar-benar memaksa fisik yang lemah ini beraktivitas. Tetapi akibatnya bisa ditebak. Maag jadi kambuh, kepala selalu pening, mual karena lelah, dan demam acap kali lelah benar-benar mendera. Namun, semua harus dilawan. akibatnya apa? dengan fisik yang lelah, perut yang bernyanyi, ditambah "mereka" yang sementara ujian greget melihatnya. jadilah sering marah-marah akhir-akhir ini.

Marah menguras energi perasaan. Betapa tidak marah, ada-ada saja kelakuan "mereka" yang memancing kelelahan jiwa. Datang terlambat. Kartu ujian yang selalu dilupa dan tercecer. Nama yang selalu tidak terinput di berita acara. peserta yang kadang over dosis. Ditambah dengan kehadiran para senior nyentrik, yang omongan banyak, raja ngeles, tapi otak dan etika jebol. Belum lagi nilai kejujuran yang seolah intan permata yang sulit sekali ditemukan. Bahkan yang membuat kesell pooolll itu saat di depan mata tidak tanggung nyontek, buka hp, atau bahkan kalasi tingkat dewa seperti hari ini. ada 2 kali saya merobek kertas ujian. pertama, saat ada yang minta ujian susulan. karena nggak mungkin saya bisa menjaganya di tempat lain sedang instruksi sola harus closed book, jadilah dia kusuruh ujian di dekatku. tahu apa yang terjadi?. Belum juga menulis apa-apa, sudah minta ttd berita acara. whatttss???. Tentu saja saya tidak beri. Selang beberapa menit duduknya sudah tidak tenang, dengan gaya nyontek yang sudah jadul, mau membuka hp dari bawah mejanya. heiii... itu cara nyontek zaman nenek moyang tahu... :D. Saya pun menegurnya. tapi akal busuknya tidak hilang juga. Entah ada seseorang dari luar hilir mudik, kayaknya temannya dia. dan si dia ini gelisah dengan sebuah benda di bawah kakinya. saya sih tidk mau langsung bertanya sebelum adda bukti nyata. Ehh.. lihat saya sibuk rekap kehadiran, dia menunduk mengambil sesuatu. dann... tiba-tiba, kertas yang bbarusan bersih tanpa tulisan langsung penuh coretan tulisan. full jawaban. wahh.. hebat banget, cuma nunduk aja kertasnya langsung terisi wkwkkw... dia pikir saya ini bodoh kali ya?. langsung saja kutanyakan apa yang di depannya yang sengaja dia tutup dengan kertas soalnya (ngapain juga nutup jawabannya kalau emang ada. jadi temannya aja sama ujian, nyontek sama dia ogahhh.... :D ). Karena dia tak bisa mengelak, kertas jawabannya kuambil dan kurobek. Emangnya saya bodoh apa, nggak tahu kalau kertas itu kertas lain yang sudah dijawasebelumnya, dan saya curiga dikerjakan sama temannya yang di luar tadi, dan dioper ke dalam, sayangnya saya sibuk merekap, tapi ekor mataku selalu jeli. itu mustahil kali kertas jawaban mendadak full begitu :D :D :D.

Semenjak disibukkan dengan kegiatan Ujian semester kampus, rasa-rasanya saya menjadi orang yang lalai. Ibadah wajib ssering terlambat dan keteteran,sedang lainnya jadi terlupakan. Ahh... Benarlah penjelasan ust. Adi Hidayat, Lc bahwa salah satu jenis setan yang perlu diwaspadai adalah setan pekerjaan. Karena sangat banyak manusia yang tiap harinya asyik disibukkan dengan pekerjaa, deadline dan lebih mengejar target acungan jempol atasan. lalu lupa bahwa diatas atasan yang dia sanjung, ada atasan yang harusnya lebih diperhatikan. Yaa rabb, maagkan hamba yang menjadi lalai. Bahkan siang tadi saat sholat dzuhur keteteran, rasanya sesak. Ada yang hilang, mungkin rasa dekat dengan Allah yang berkurang. Betapa tidak, sholat saja dilakukan serba terburu-buru. Ya Rabb, ampuni hamba. Sadarkan hamba jika lalai dan terlalaikan.

Ingat bapak. Mengapa jadi ingat beliau?. Dengan saya yang seperti ini, keras dalam nilai yang kuyakini dan kupertahankan. Atau dalam bahasa sehari-harinya saya nampak jadi sosok idealis dalam hal pekerjaan. Misal dalam kepengawasan, saya benar-benar tidak suka ketidakjujuran. Tidak suka cara curang. dan tetap keras pada setiap apapun yang kupegang, meski di depanku ada orang yang dekat atau dekat dengan keluarga. Melihat diriku yang seperti itu, rasanya saya bercermin pada ayahku. Bukankah beliau juga seperti itu?. Jika ada nilai yang dianggap benar, tunggu saja nilai itu akan dipertahankan keras. Dan juga keras pada ketidakjujuran. Bilang A, ya A. Bilang E, ya E. kekeuh banget. Ada salah seorang teman dosen di kampus yang dulu adalah muridnya beliau, pernah bercerita tentang bagaimana keras dan tegasnya ayahku. Tak peduli dengan omongan orang, jika itu adalah sesuat yang dia anggap benar, dia akan mempertahankan. Tak jarang dia banyak dibenci oleh siswanya, karena memang dia sangat objektif dalam menilai. Siapapun dia. Mendengar cerita itu saja saya berkaca-kaca mengenang ayahku. Dan kalasore ini, dengan segala permasalahan kepengawasan dll yang kutemui, rasanya saya ingin berkata: inilah yang diwariskan ayahku kepadaku. Ayah.. saya rindu :'(

Entah telah berapa hari. Dan entah apakah mesti dihitung?. Atau entah apakah masih layak dipikirkan?. Iya, saya sudah berjanji pada diriku untuk bersabar dan ikhlas menerima. Satu hal yang kuyakini hingga kini, bahwa aqidah-ku yang kupertaruhkan disini. Jika saya percaya rububiyahnya Allah, maka saya mesti tidak merasa khawatir akan apapun. Allah-lah tempat meminta, tempat memohon, tempat berkeluh kesah, tempat bercerita, tempat mengadu, tempat meminta. Saya yakin, Allah melihat, mendengar, mengetahui, merasakan, dan adil atas segala perkara di dunia ini. Mengapa harus khawatir dan sedih?. Ada Allah kok yang akan menyelesaikan setiap perkara, dan ada Allah yang akan membalas setiap perkara. Tak perlu khawatir jika saat ini sedih dan terpuruk sendiri, sedang di beberapa kilo sana ada yang tertawa dan bahagia, bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun dengan yang dia lakukan. Tenang... ada Allah yang mendengar keluhmu, do'amu, dan pintamu. Ada Allah yang melihat dan mengetahui kebenaran yang hakiki, meski semua manusia tidak mengakui kebenaranmu dan tidak percaya perkataanmu, ada Allah yang tahu, dan pasti tak ada yang tertutupi bagi-Nya. kebenaran akan tetap jadi kebenaran, meski sekuat tenaga manusia menutupinya. Dan sabarlah, yakin saja segala sesuatu di dunia ini akan dimintai pertanggungjawabannya sekecil dzarrah pun, apalagi perkara dengan urusan manusia. Jika di dunia bisa lolos dalam pertanggungjawaban, tetapi kelak di akhirat tidak. Manusia akan saling berhadapan dalam urusan perkara antara mereka. Jika di dunia, manusia bisa lepas dari kesalahannya, tetapi tidak di akhirat. percayalah, segala sesuatu akan ada pengadilannya juga balasannya. meski tak dikatakan, Allah tetap tahu. Maka bersabarlah. Cukup benahi dirimu, dan mendekatlah pada-Nya. Bukanlah dengan Allah semua kan menjadi cukup?. dan Cukup Engkau yang tahu detailnya ya Rabb.

Satu hal lagi yang membuatku tertegun beberapa waktu belakangan ini. Ini sebuah kebaikan dan kemajuan. Meski, jujur ada kekhawatiran yang juga muncul dalam hati, namun sellau kucoba kutepis. Semoga itu hanya kekhawatiranku, bukan persangkaan burukku. Bukankah dengan keadaan yang berubah akan lebih baik?. Entah dimulai sejak kapan, beberapa mahasiswi di kampus mendadak berubah penampilannya. bahkan mereka yang dulunya dengan dandanan yang menor, celana jeans yang ketat serta suara teriakan menggelegar, berganti dengan sosok muslimah. pakaian mereka menjadi syar'i dan itu bukan cuma satu orang tetapi sekarang malah menjamur. Bukan hanya di satu jurusan tetapi kedua jurusan. Pernah bertanya, ini kenapa?. mereka kenapa?. Tetapi segera kubuang pertanyaan itu. Harusnya saya bersyukur. pemandnagan semakin meneduhkan. Saya bangga. Saya bahagia. Saya tertegun. Saya berkaca-kaca. Alhamdulillah, sebuah perkembangan yang baik. Ini membuka pikiran sempit yang dulu mereka pegang bahwa cewek teknik itu identik dengan celana panjang, bukan dengan roknya. Nah sekarang malah mereka banyak yang bergamis dan jilbab yang lebar jauh lebih lebar dari jilbabku kini. Semoga tetap istiqomah dek. Dan ingatlah: Sesulit-sulitnya berhijrah, akan jauh lebih sulit untuk tetap istiqomah. Semoga tetap istiqomah dek, dan semoga kekhawatiranku bahwa kalian mendadak berubah begini jangan sampai hanya karena ikut-ikutan, adalah salah dan keliru. tetaplah begitu dek. Dan yang penting juga, ilmui-lah :). proud of them. 

Segala rasa hari ini semua kukembalikan padamu ya Rabb. Entah kenapa semua itu muncul sekaligus sekali waktu. Bagaimana bisa kutahan gerimis turun menjadi hujan deras?. Pintaku, cukupkanlah hatiku dengan-Mu. Maa fii Qalbi Ghairullah.

Kamis, 010118

Kamis, 01 Februari 2018

Super Blue Blood Moon 31118
Sejarah akan mencatat bahwa tepat pada tanggal 31 Januari 2018, di bumi terjadi gerhana bulan total. Seperti biasa, fenomena alam seperti ini membuat manusia harus memilih, ikut jadi followers shalat gerhana atau ikut follower pencari gerhana. Pilihan ada di tangan masing-masing. 
*langsung dari TKP. Depan rumah"
Malam ini, hanya ingin mengatakan :
Redup tetapi tetap terang diantara kegelapan dan tetap dikagumi sebagai sesuatu yg indah.
*Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda2 bagi orang berfikir*.

🌙🌒🌓🌔🌕🌖🌗🌘

Senin, 29 Januari 2018

Mengunjungimu Bapak
Sore 28 Januari 2018. Kembali mengunjungimu bapak di tempat peristirahatan terakhirmu. Sedari awal yang kujaga dari diriku adalah jangan sampai tangis ini tidak bisa kubendung. Semoga meskipun menangis di dekat tempatmu, tetapi bukan tangisan meraung atau tangisan tanpa keikhlasan melepasmu. Waktu tak terasa bergulir. Sudah hampir 2 bulan engkau pergi meninggalkan kami. Namun, masih juga serasa engkau ada disini. Dan masih juga kerinduan sering hadir. Hampir setiap bagian di rumah ini mengingatkan kami padamu. Subuh rasanya kurang tanpa suara dentingan ranting kayu dan sapu. Halaman yang dulu sangat akrab denganmu, seakan bernyanyi sedih menantikan tangan cekatanmu membersihkan setiap jengkalnya. rerumputan pun rindu denganmu. Tangan yang selalu menjamah tubuh mereka mencabut dan membabatnya. Ke dapur pun, yang kuingat setip pagi rutinitasmu membuat kopi dan mencari air panas. bahkan kejadian yang dulu lucu tentangmu ketika kuingat, bukan lagi tawa yang hadir tetapi tangis yang ingin hadir. saat itu engkau ingin membuat kopi. dan diatas meja ada beberapa toples. antara gula, dan garam sulit dibedakan sekilas. Tanpa memperhatikan dengan seksama, kopi yang kau buat engkau beri garam bukan gula. Namun dengan mencoba sekali, mungkin saat itu engkau merasa lidahmu yang bermasalah, hingga engkau menambah lagi garam di kopi yang engkau buat. Setelah mencoba, ternyata makin asin, hingga saya yang saat itu sedang asik menyapu kau sapa. "ini garam pale bukan gula?. Barulah saya sadar ternyata sedari tadi lama membuat kopi, ternyata karena itu. Saat itu saya tertawa, ahh.. bapak.. mungkin karena usiamu yang makin senja, pikun  sudah menggelayutimu. 

Apalagi yang kuingat darimu? sangat banyak. Apalagi kenangan masa kecil. Engkau bagai malaikat bagi kami. Selalu mengurus kami saat kecil. Mengajari kami menghitung dan membaca. Juga selalu setia bubur buatanmu tiap pagi. Engkau hampir tak pernah memarahi kami. Justru di masa tuamu mungkin kami yang tidak sabaran. Juga, di masa kecil kami, hampir tiap malam kita duduk di depan rumah menyaksikan langit yang penuh bintang. tentu diiringi ceritamu tentang banyak hal. Apalagi jika bercerita tentang kisahmu saat pemberontakan DI/TII, kisahmu seolah tiada henti. Tak lupa lagu favoritmu "Suruganna Bambapuang". Karena seringnya dulu engkau lagukan, saya pun menghafal lagu itu hingga sekarang. 

Bapak.. kebiasaanmu rasanya masih ada disini. Masih ingin kusksikan secara langsung. saat depan TV acara kesukaanmu adalah berita dan mendengar lagu-lagu tempo doloe. Bahkan sampai tertidur depan TV. Urusan makan dan yang lain, pelajaran yang kuambil darimu adalah kesederhanaan. Tak pernah sekalipun kudengar engkau mencela makanan. bahkan ketika asin ataupun ketika lelah dari aktivitasmu makanan belum tersaji, tak pernah kudengar engkau marah. Ahh.. bapak... ada banyak tentangmu. hadir.. berkelebat.. membuat  airmata ini tak kuasa kubendung mengalir deras. Apalagi saat ibu membacakan Al-Qur'an di samping kuburanmu. Ibu pun menangis. bagaimana tangis ini tidak bertambah deras?.

Bapak... saya rindu. Tak ada lagi yang kupanggil bapak. tak ada lagi yang kusalami setiap bepergian keluar rumah. Tak lagi ada lelaki hebat di dekatku. lelaki yang mengajarkanku tentang cinta sederhana dan kesetiaan. bapak, darimu saya belajar tentang banyak hal. Bukankah lelaki pertama yang membuat seorang anak gadis jatuh cinta adalah pada ayahnya?. 

Ya Rabb.. sayangi ayahku. Rengkuh ia dalam mahabbah-Mu. Ampuni segala dosa dan kesalahnnya. terima segala amal kebaikannya. Ya Rabb.. mohon jangan hukumi ayahku karena dosa dan kemaksiatan yang kulakukan, namun alirkanlah juga pahala untuknya bila ada kebaikan yang kulakukan. Rabb... titip rindu untuk ayahku.

Palopo, 290118.
*Bahkan menulis ini, kerinduan padamu makin menyeruak*
Kenapa Harus Dilan?
Again masih tentang #dilan. Tapi tenang, saya bukan pengamin kisah dilan. Baca story atau nonton filmx aja kagak. Minat juga kagak. Trus ngapain bahas dilan terus?. Nah ini yang perlu diluruskan dengan beberapa komentar orang yang nangkring bertanya dan mungkin memvonis ini itu.
"Kenapa sih ikutan bahas dilan?"
"Ikutan penggemar Dilan ya?"
"Kok ikutan meramaikan Dilan?. Kan kisah Dilan itu nggak bagus"
Perlu diingat bahwa salah satu kaidah dalam melawan sebuah arus adalah dengan ikut arusnya bukan melawan. Ikut gimana? Ya ikut dengan trendnya, bukan karena suka, atau meng-iya-kan sebagai sebuah kebaikan. Justru malah dengan trend itu, membolak pola pikir masyarakat yang "jangan sampai" terlena mengaminkan banyak pesan dari kisahnya. 

Caranya gimana?. Ya cobalah ikut arus dengan juga menggunakan "subjek" itu tetapi dengan meluruskan. Atau memperbaiki stigma. Kalau aslinya dilan full kata gombal yang banyak bikin baper, maka jawablah itu. Luruskanlah itu. Pelintirlah.. otak-atiklah. Semoga dengan begitu akan ada pikiran dan hati yang bisa menerima dan terklik sadar. Karena kalau tidak, akan banyak yang terbawa arus gombalisme ala #dilan. Dan itu yang tidak diinginkan. Sangat merusak generasi muda. .

Kalau dengan mengikuti trend kita bisa menyampaikan nasehat dan merubah persepsi. Kenapa tidak?. Karena kalau dalam masa trend sekarang membahasnya, akan banyak yang akan membaca. Kalau seperti itu, juga bisa jadi ladang dakwah bagi kita. Isn't it?.
#janganantitrend #ikutiarustapiperbaiki
#dilantelahhijrah #dilan2018

Sabtu, 27 Januari 2018

Bilang pada Dilan
Beberapa hari ini, utamanya hari ini, kata Dilan banyak nangkring di beranda sosmedku. Awalnya nggak peduli, itu apa sih?. Tetapi lama-kelamaan penasaran juga. Cuma tak kugerakkan tanganku menelusuroi google. Hanya nangkring melihat quotes tentang Dilan. Aduhai.. sangat banyak. Dan quotes yang paling banyak adalah "Jangan rindu. itu berat. Kau tak akan sanggup. Biar aku saja". Wetts... gaya gombal banget. Ini apa sih?. Sampai pada quotes balasan atas quotes Dilan yang berseliweran. Saya pun pada akhirnya membuat quotes balasan juga. Biarlah.. mumpung lagi membooming, ikutan trend aja. Tetapi ikutannya dengan meluruskan qoutes yang banyak diaminkan dan membuat banyak wajah senyam-senyum dan terpelanting karena baper.

Tentang rindu..... Bisa diduga kalau kisah ini akan banyak digemari oleh para ABG alias kids jaman now. Dan juga akan diminati oleh mereka yang lagi dilanda asmara. Tentu quotenya banyak dikutip, dishare, bahkan mungkin diambil tuk diaplikasikan alias dipakai ngegombal. iyya nggak sih?. Emang sih kata-katanya kayak jus buah segar yang manis pake segar. Tetapi, apalagi kalau suasana hati emang lagi berbunga mawar. tetapi bagi yang bisa berfikir biasa alias berpikir normal, justru kata-katanya itu asli rayuan cap kapak. Mungkin lebih tepatnya diistilahkan 'alay". Coba aja deh dicek. eitss.. jangan bilang karena aku cemburu, karena nggak punya sosok yang bisa ngegombalin, atau bisa dibayangkan seromantis dilan pada milea. Kalau ucapan cowok kayak si Dilan, itu 95% bagiku hanya pemanis bibir. 

Lihat saja dari beberapa quotesnya, selalu merayu. namun justru rayuannya mampu membuat sebuah hati terlena dan terpaut. tetapi sayangnya, cerita selanjutnya harus akrab dengan kesabaran dan perpisahan. Ini ceritanya, kisah banyak di-PHP-in dengan setumpuk kata-kata romantis, namun tak kunjung ditemui dalam pulang. Yang ada malah, mesti membesarkan hati akrab dengan perpisahan. Aihh.. ini asli PHP. Gaya kebanyakan cowok buaya darat. Namun sayangnya, dengan hadirnya film ini, justru banyak yang mengaminkan setiap kata romantisnya. Dan tersipu malu membacanya. Miiris...

Yuk lihat beberapa Quotesnya.
"Jangan rindu. Itu berat. Kau tak akan sanggup. Biar aku saja".
Itu ucapan Dilan kepada Milea. Kalau dibaca sih nampak romantis bingitss. tetapi berpikir nggak kalau sebenarnya Dilan justru egois. Dia tahu kalau ada orang lain yang akan merindukannya, tetapi justru dia melarang rasa itu ada pada orang lain. Hanya dia saja yang boleh memilikinya dan memikulnya. Itu curang. Ingin mencurahi rasa, tetapi tidak mau tercurahi rasa. Dan emangnya dia bisa ngukur sejauh mana kemampuan seseorang?. Sampai dia yakin kalau dia saja yang bisa memendam kerinduan?. Ishhh... ini gombal number wahid.

"Jika aku menjadi presiden yang mencintai seluruh rakyatnya, aduh maaf, aku pasti tidak bisa. Karena aku cuma suka Milea"
Nah.. hayo... Cowok macam begini cocoknya diapain coba?. Yang kayak gini nih yang sangat anti NKRI terang-terangan. Nggak bisa membedakan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Nggak bisa melaksanakan amanah keneggaraan. Nggak sanggup memikul amanah keummatan. Emang negaranya hanya berpenduduk Milea?. Begini yang juga namanya anti sosial. Nggak bisa bermasyarakat nih hidupnya. Masihkah cowok mau menggunakan kata-kata ini menggombal? :D

"Nanti kalau kau mau tidur, percayalah aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu nggak dengar?". 
Bener nggak sih? Paling setelah berselancar di dumainya. Atau jaman dulu lepas dari kesibukan malamnya, langsung terjun bebas tidur. Dan emangnya dia tuh paranormal ya, tahu kapan saja si milea akan tidur. Hebat tuh... gombal kan?

"Tenang saja, perpisahan itu tak menyedihkan. Yang menyedihkan adalah bila habis itu saling lupa". 
Mana ada yang namanya perpisahan nggak menyedihkan?. Bahkan perpisahan yang baik-baik pun itu menyedihkan. Apalagi perpisahan yang tiba-tiba. Apalagi perpisahan setelah menerima segunung kalimat gombal. Dan kalau sudah berpisah, ngapain diiingat? ngapain dikenang?. Ini nih ynag membuat nggak bisa move on. Sudah.. lupain aja... tak perlu diingat. Baik orangnya atau tumpukan gombalannya. 

Kalau limun menyegarkan, kamu lebih. kalau cokelat diisi kacang mente katanya enak, kamu lebih. Atau ada roti diisi ikan tuna berbumbu daun kemangi, kamu lebih. Kamu itu lebih sehat dari buah-buahan. Tahu nggak? lebih berwarna dari pelangi. lebih segar dari pagi. jadi, kamu kamu harus mengerti ya. aku menyukaimu sampai tujuh ratus turunan ditambah 500 turunan lagi".
kebayang nggak betapa lebaynya nih kata-kata. Ini gombal cap sambel. disukai sampai beratus-ratus turunan? yakin turunannya masih nyampe ratusan?. dan suka itu mungkin bagi yang lagi kasmaran itu selalu indah dan bahagia. Nyatanya rasa suka nanti akan banyak cobaannya. Apakah benar akan selalu seperti itu seterusnya, atau malah hanya karena kesalahan kecil, rasa suka langsung pudar, atau menghilang, atau bahkan berpindah. 

So, jangan terlalu ngikut trend dan muluk-muluk mengaminkan. cek dulu. Kalau Yang difilmkan ini adalah kisah remaja SMA di tahun 1990. Apakah remaja jaman sekarang mengikuti, atau lebih dari itu?. semoga 2018, Dilan jaman now telah hijrah. Nggak lagi sibu menyusun kata-kata ngegombal si Milea. Semoga Si Dilan jaman now dah tobat, Nggak lagi suka PHP tetapi sayangnya nggak bisa membuktikan janji dengan kembali. Semoga Dilan-dilan jaman now lebih suka ngaji daripada umbar janji ^_^. 

Epilog:
Dilan.. kau ada dimana? apa nggak nyadar kalau lagi banyak yang nyari?. Tuh banyak yang mau nyampein sesuatu. Sampai-sampai pesan untukmu berseliweran di sosmed. Aku tidak bisa menampung semua pesan dari mereka. keluuarlah... Bacalah pesan-pesan untukmu. :D

#Dilan #dilanjamannow #dilan2018 #dilantelahhijrah 

Kamis, 25 Januari 2018

Sebuah Tanya Jawab

A : Begini. Dulu saya pernah pacaran sebelum memutuskan hijrah. Setelah saya hijrah saya tidak pernah komunikasi lagi dengan dia. Dan saya sama sekali tidak pernah tahu kabarnya karena saya sengaja tidak ingin tahu. Tapi jujur saya masih belum bisa melupakannya. Sebelum kami berdua hijrah dia pernah bilang kalau dia pasti akan kembali jika sudah siap untuk kepelaminan. Jadi pertnyaan saya . Apa saya harus menunggunya atau memutuskan untuk tidak menunggu jika tiba-tiba suatu saat ada orang baru yang duluan melamar saya ? Mohon bantuannya ya . Saya benar2 bingung

B : Jodoh itu tidak bisa ditebak. Meski pernah berjanji. Tapi janji itu bukan sebuah keniscayaan. Itu masih belum bisa dipercaya. Dan tidak ada larangan untuk menerima pinangan orang lain. Karena pada dasarnya belum ada ikatan yang sah antara keduanya. Bukankah yang berjanji akan dikalahkan oleh dia yang membuktikan?. Dan jika ada yang lebih baik datang. Baik agamanya, kenapa harus ditolak?. Tidak ada jaminan kalau dia yang pernah berjanji benar akan datang.
B : Menunggu boleh saja. Masih mempunyai harapan boleh saja. Tapi mintalah pada Allah. Gantungkanlah harapan hanya pada-Nya. Tetapi jangan tutup diri. Kembali lagi ke tadi, bagaimanapun perasaan kita sebelumnya pada dia, secara syariat belum ada ikatan yang sah.

A : Masalahnya saya belum bisa melupakan dia. Saya menjalin hubungan tidak sebentar ukhty. 7 tahun sama-sama. Dan buat lupa itu berat sekali. Sampai-sampai saya sulit. Mungkin tidak bisa menerima orang baru lagi 

B : Itu tablish ukhti. Itu godaan syaitan. Berani berhijrah berarti berani mengikuti perintah Allah. Berarti segala urusan benar-benar kita pasrahkan kepada Allah. Meski bahkan lebih dari 7 tahun bersama nggak ada jaminan kalau ukh dan dia akan bersama dan berjodoh. Memang bukan waktu yang singkat. Tetapi justru itu makin membuka mata kita, masa iyya 7 tahun bersama dia belum berani menghalalkan?. Gimana kalau ukh dah lama bersama dan lama pula menunggunya tapi dia nggak datang2?.

A : Kemaren saya dan dia memang belum mau nikah ukh , tapi sekarang benar-benar memutuskan untuk berpisah dan kembali ke jalan yang benar. Dia berhijrah dan saya pun demikian. Mungkin benar yangg ukh katakan. Saya hanya perlu sabar kali yaa. Terima kasih ukh atas nasihat dan masukannya.

B : Emang mungkin akan terasa susah. Sulit. Sedih. Dan rasanya berat. Saya juga pernah begitu ukh. Bahkan sudah merasa dialah yang akan menjadi jodoh. Tapi qadarullah.. dia pergi dengan segala janji manisnya bahkan mengikutkan nama Tuhan-nya klw pasti akan memilih dan perjuangin saya. Tapi kenyataannya?. Kembalikan pada Allah ukh. Segala ketidakenakan. Segala kekhawatiran. Segala berat bahkan perasaan anti, kembalikan pada Allah. Pertaruhkan aja hidup ukh pada Allah. Insya Allah DIA akan memberikan yang terbaik. Kalau dia yang trbaik, insya Allah dia akan datang pada ukh dengan menawarkan kehalalan. Tapi jika dia bukan yang terbaik, Allah akan menghadirkan orang yang lebih baik dari dia. Dan yakinlah apa yang dipilihkan oleh Allah, itulah yang terbaik bagi kita

A : Iyaa ukhty . Benar sekali. Terima kasih ukhty telah menyadarkan saya. Dan terima kasih masukan nya

B : iya ukh. Karena boleh jadi apa yang menurut kita baik belum tentu baik untuk kita. Dan apa yang menurut kita jelek boleh jadi menurut Allah itulah yang terbaik untuk kita. QS. Al-Baqarah 216

B : Iya ukh. Mari sama-sama saling menasehati dan menebar manfaat.

Epilog:
Tak ada satupun manusia yang bersih dari dosa. Karena sesungguhnya kita semua adalah pendosa. mungkin kita tampak baik di mata manusia, tetapi kita yang tahu sendiri bagaimana diri dan hati kita. Tampak baik di mata manusia, itu karena Allah yang menutup aib-aib kita. Kalau saja semua aib tidak tertutupi, akan jarang orang berjalan dgn tenang di dunia ini. Kemarin boleh jadi kita terperangkap dan terpuruk, tetapi jangan biarkan hari ini sama terperangkap. Hari ini boleh saja kita tersungkur, tetapi esok harus bisa bangkit memperbaiki diri. Itulah keimnan, selalu naik turun. iman dan futur sering datang berselingan. Maka mintalah pada Allah agar bisa ditetapkan dalam ketaatan dan ditunjukkan jalan yang lurus. Dan sebagaimanapun besarnya kesalahan yang diperbuat, itu bukanlah alasan untuk mundur meratapi dan mengutuki diri. Allah amat besar rasa sayangnya. Dan amat merindukan rintihan hambanya setelah melakukan kelalaian. Itu berarti jangan pernah berhenti bertaubat acapkali berbuat kesalahan. Jangan letih. karena Allah tak pernah letih menerma kita. Sebab tak satupun diantara kita yang bukan pendosa, maka siapapun diantara kita boleh menasehati yang lain. Jika syarat menasehati adalah selalu baik dan tak pernah berbuat salah, apakah ada yang memenuhi kriteria itu?. Tidak ada kan?. Maka... Berilah nasehat. Tebarlah manfaat. Semoga dengan nasehat itu ada jiwa-jiwa yang tersentuh hatinya. Dan dengan nasehat itu, bukan menunjukkan bahwa kita telah baik dan sellau baik, tetapi karena kita ingin baik. Nasehat pada hakekatnya bukan hanya untuk orang lain, tetapi lebih kepada perkataan yang memantul ke diri. Sebagai patron bagi diri. Sebagai koreksi bagi diri. Dan sebagai warning bagi diri. Maka teman... ini bukan karena saya orang baik dan selalu baik. Tetapi marilah kita bersama menjadi baik. Fastabiqul khairat...