Dunia Yaya

Minggu, 20 Mei 2018

Kacamataku dan Kacamatamu
Jika selama ini hanya menggunakan kacamata diri, sekali-kali gunakanlah kacamata orang lain. (Mungkin) ada yang perlu diperbaiki. (Mungkin) kita terlena telah menganggap diri telah baik, tp orang hanya tidak peduli pada kita. 

Jika selama ini tersudut karena sibuk memakai kacamata orang lain, alangkah lebih baiknya tuk setidaknya pakai kacamata diri. (Mungkin) kita sibuk mendengar kata orang. (Mungkin) kita sibuk pada penilaian orang. (Mungkin) kita sibuk cari perhatian orang. Sampai kita lupa bahwa sebagaimnapun kita ingin baik dan menyenangkan di hadapan orang, selalu saja ada yang tidak menyenangi dan selalu saja ada yang kurang. Kita sibuk menyenangkan hati orang, kita lupa untuk menyenangkan hati sendiri dengan menerima apapun yang sudah kita lakukan dengan semampu kita itulah hasilnya dan harus diterima. 

Dengarkan diri kita, tapi jangan lupa mendengar pendapat orang lain sebagai koreksi. Dengarkan irang lain, tapi jangan lupa untuk mengingat bahwa kita adalah diri kita bukan orang lain. Kita-lah yang mestinya lebih tahu diri kita dan menyayangi diri kita.

Kacamataku bukan kacamatamu. Tapi kacamatamu bisa kupinjam kala kacamataku sedikit kabur melihat cahaya di depanku☺.

#sianghari #ngebolang #pkh

Sabtu, 19 Mei 2018

Keluarga Elhabashy
Tahu kan ya dia siapa Maryam, Hamzah, dan Mundzir Elhabashy?. Ada yang nggak kenal?. Wah harus kenalan sama dia. Sebenarnya bukan lebay atau gimana gitu. Cuma bener terkagum-kagum mengikuti perkembangan keluarga ini. Seperti pada tulisan sebelumnya bagaimana sosok Hamzah membuat saya terharu dan terkagum-kagum sampai saya kepo mau tahu nih anak dari mana, dan bagaimana bisa menjadi hafidz di negeri minoritas muslim dan juga terkenal dengan negeri yang anti islam. Bisa dibayangkan bagaimana menjadi muslim di negeri minoritas apalagi dengan suguhan kebebasan. Bagaimana tumbuh sosok remaja yang didik menjadi generasi Qur'ani. Keterkaguman saya semakin bertambah setelah tahu kakaknya ternyata juga seorang hafidzah (maryam Elhabashy) dan adiknya pun bercita-cita sama dengan kakak-kakaknya. Aih... betapa bangganya orang tua mereka. Keterkaguman saya semakin lengkap dengan melihat bagaimana ayah mereka begitu perhatian dan telaten selalu ada untuk anak-anaknya. Ayah yang luar biasa. meski saya tidak juga mendapatkan bagaimana sosok ibunya, tetapi yakinlah mereka didampingi oleh seorang perempuan yang hebat. Ahhh.. Barakallahufikum...

Setelah sekitar setahun tidak mengikuti perkembangan keluarga ini utamanya Hamzah, Memasuki bulan ramadhan ini mendadak searching di internet dan... i'm very exicted... Banyak video baru. Ada video dia lagi mengaji dalam membuka sebuah kegiatan Musyawarah Ummat Islam di Amerika. Begitu sederhana, cair dan santai. Ada pula video khatam Qur'an di depan Syaikh dan keluarganya. Dan lebih membuat sukses senyam-senyum itu pas dapat video shalat tarwih dimana Hamzah jadi imamnya. Wuih.. Masya Allah keren..keren..keren... (minta satu kayak begini ya Allah) :). makin ngalir aja membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hamzah telah berubah jadi remaja sempurna, bahkan sudah kelihatan dewasa dengan suara yang mulai nge-bass. Entahlah.. saya malah senyam-senyum.. saya makin terkagum sama remaja satu ini. semoga seterusnya tetap seperti itu. Tetap berada di garda terdepan mengantarkan Islam di Negeri Paman Sam jadi agama yang menenangkan dan menyenangkan. Sekaligus, rasanya makin malu saja. Berada di negeri mayoritas muslim, tetapi hafalan Qur'an? hancur!. Akhlaq generasi mudanya? ahh.. sudahlah... memilukan ketika mau diuraikan. 

Mundzir Elhabashy
Ada lagi yang makin membuat terhenyak. Mendapatkan video adiknya, Mundzir elhabashy yang menjadi imam shalat. Masya Allah.... tak jauh dari kakak-kakaknya, dia pun luar biasa. ngalir saja jadi imamnya. dia pun sudah mulai tumbuh mendekati remaja. wajah makin mirip dengan kakaknya. Dan sering kali ada diantara kakaknya. Gimana perasaan jadi orang tua mereka ya?. Apalagi yang menjadi bekal dan membanggakan sebagai orang tua, melihat anak-anak yang menjadi generasi Qur'ani. bukankah itulah sebaik-baik tabungan?. Bukankah itu sebaik-baik pengasuhan? Bukankah itu sebaik-baik memelihara titipan?

Ya Rabb... betapa merinding dan terkagum menyaksikan mereka. Rasa iri, terharu, sedih, dan bahagia bercampur emnjadi satu. Bisakah seperti mereka?. Sampai terbesit do'a: ya Rabb minta kek gini. Jika tak bisa sebagai pasangan hidup, maka mohon berikan sebagai generasi kami. Doa' terbaik untuk mereka. Semoga senantiasa diberi kesehatan dan keistiqomahan agar bisa terus berdakwah di negeri sana. May Allah always bless them. 'aamiin yaa Rabb. :) :) :) .

Jumat, 18 Mei 2018

Adil Menggunakan Kosakata Teror
Negeri ini masih juga carut-marut efek pengeboman beberapa hari yang lalu. Wajarlah, apalagi pengeboman ini sensitif ke SARA. Mesti hati-hati berargumen. Sebelumnya, saya sudah membuat tulisan mengenai mereka (individu atau sekelompok orang) yang melakukan pengeboman yang mungkin dengan dalih bentuk jihad. jujur masih sangsi apakah benar yang melakukan itu adalah ummat islam? (eits, jangan protes dulu). Demi melihat video detik-detik pengeboman yang dilakukan beramai-ramai bersama keluarganya, pikiran sederhana saya pun bertanya-tanya, bagaimana ajaran yang mereka dapatkan? sedalam apa doktrin yang mereka dapatkan, sampai dengan begitu rela melakukan bom bunuh diri bahkan dengan membawa serta anak-anaknya. Dan bagaimna mereka sebagai orang tua menanamkan ideologi kepada anak-anaknya?. Ahh... makin banyak PR Ummat islam.

Namun, di balik segala pemberitaan media tentang pengeboman dan judgement terhadap identitas muslim seperti cadar, jilbab, jenggot, celana cingkrang, dsb, terselip beberapa berita tentang pembantaian di Palestina sana, dengan beberapa korban yang terus berjatuhan. Mengapa tak satupun media memberitakan tentang kesedihan dan segala tindakan kekerasan di palestina sana?. Kenapa begitu heboh dengan bom di negeri ini? apakah karena pengeboman ini di Indonesia, sedang yang di sana adalah negeri orang, ngapain diurusin?. Bukankah segala tempat di negeri manapun jika ummat islam diusik tetap saja menjadi negeri ummat muslim. ataukah karena kejadiannya sudah berlarut-larut dan sudah terbiasa?. bukankah karena sudah berlarut-larut justru harus menjadi masalah serius dan diperhatikan bersama?. Bukankah justru disana pengeboman itu tiap hari? mengenai warga sipil, mengenai anak-anak dan wanita, tak kenal siang atau malam, tak kenal hari biasa atau hari-hari di bulan ramadhan. tak mengenal warga palestina tengah melaksanakan ibadah (shalat) apa tidak?. Mengapa media seolah bungkam? bukankah ini sudah jelas sebagai tragedi kemanusiaan? jelas teror.. Jelas mengganggu. 

Bukannya mau mengalihkan fokus, aksi pengeboman di negeri ini wajar disesalkan, dikecam, dikutuk dan juga dicecari sampai ketemu. Tetapi mesti adil dong dalam memberitakan segala aksi teror. oleh siapapun, kepada siapapun, tanpa memandang ini-itu. paling tidak adalah berita tentang palestina. dan adalah pernyataan bahwa yang melakukan pengeboman ke palestina juga adalah pelaku teror. oh, iya tak usahlah keluar sana kalau begitu. mari lihat aksi teror lain mengenai penyidik KPK yang hingga saat ini adem ayam saja perkembangan penelusurannya. apakah karena hanya mengenai satu orang dan tidak sampai mengambil nyawa? tetapi bukannya justru kesigapan juga sama dengan yang kali ini?. Mana hasilnya? kok seolah sepi?. sedang korban hingga kini harus menerima kondisi fisik yang seperti itu. 

Jadi harus disepakati bahwa oleh siapapun, mengenai siapapun, dimanapun, yang namanya aksi pemberian rasa tidak nyaman, mengganggu keberlangsungan hidup, mengambil kehidupan, merenggut nyawa, itulah yang dikatakan sebagai aksi teror, dan pelakunya disebut sebagai teroris. tanpa memilah-milah. olehnya mesti adil juga menelusuri, harus adil juga menyelesaikan. (juga) perlu disepakati bahwa aksi teror itu berkaitan dengan pemahaman, bukan penampilan. Maka jangan mendiskreditkan mereka yang menjalankan ajaran agamanya dengan menggunakan jilbab, cadar, baju koko, gamis, atau bercelana cingkrang. berpenampilan begitu belum tentu sama dengan yang melakukan aksi teror. penampilan boleh sama, tetapi pemikiran berbeda. 

Palopo, 18 Mei 2018

Selasa, 15 Mei 2018

I'm Not Terorist
Maaf, dalam islam kami diajarkan untuk dakwah bil hikmah. Dengan cara yang lembut. Tak ada dalam ajaran kami yang menyatakan boleh membunuh orang lain selain dalam keadaan perang. Tidak pernah kami disuruh untuk memerangi agama lain. Tidak ada dalam ajaran kami yang membolehkan bunuh diri. Dan tidak ada dalam ajaran kami menggunkan kekerasan dalam berdakwah. Serta tak ada dalam agama kami bahwa meletuskan bom di keramaian warga sipil, atau di rumah ibadah lain adalah bentuk jihad. Sama sekali tidak seperti itu. 

Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin. Memberi kedamaian bagi sekitarnya. Dan memberi manfaat bagi sekelilingnya. Kami memang diminta untuk berdakwah, tapi dakwah kami adalah dengan cara yang santun dengan cara yang baik. Kami diminta untuk tetap berkawan dengan agama lain. Senyum kepada mereka. Memabantu mereka dalam hal muamalah. Dan membiarkan mereka ketika mereka beribadah. 

Bahkan bentuk paling sederhana dalam hal kebaikan yang dicontohkan dalam ajaran kami adalah membuang duri ketika menemukannya di jalan. Agar orang lain yang lewat, siapapun terhindar darinya. Maka kalau duri saja diminta untuk dihindarkan dari orang lain. Menghindarkan orang lain dalam hal sekecil itu saja diperintahkan pada kami, tentu saja hal yang lebih besar dari itu mesti kami lakukan kepada manusia lain. Lalu bagaimana mungkin dalam ajaran kami menyuruh kami menyakiti orang lain? Membunuh orang lain. Memerangi orang lain. Mengambil nyawa orang lain. Itu mustahil namanya. 

Namun jika dalam kenyataannya ditemukan seseorang atau sekelompok orang yang mengatasnamakan ajaran agama kami melakukan hal tersebut, tentu ada yang salah dengan pemahaman mereka. Ada yang salah dalam interpretasi dakwah menurut mereka. Ada yang keliru dalam pelaksanaan jihad versi mereka. Mungkin inilah yang menjadi tantangan bagi kami untuk meluruskan hal yang salah. Tapi yang hatus dipahami, tindakan mereka bukan mewakili ummat ajaran agama kami. Karena sesungguhnya tindakan, pemikiran, dan idealisme mereka keliru. Jangan menyapuratakan satu tindakan sebagai ajaran kami. Juga jangan mencap kami sebagai teroris. Boleh marah dengan tindakan mereka. Boleh mengecam perilaku mereka. Tetapi jangan menyamakan kami semua sama. Sama dalam hal pemahaman dakwah dan jihad. 

Kami muslim. Kami bukan teroris. Justru kamilah yang banyak diteror di negeri lain. Kamilah yang sering dibantai di negeri lain. Tapi kami tidak menyebut mereka yang membantai sebagai teroris. Dan juga orang lain tidak mau mengakui bahwa mereka yang membantai saudara kami adalah teroris. Maka mari adil menggunakan kosakata teroris. Bukan dengan terburu-buru menyematkannya pada kami. Dan juga menjadikan apa yang kami gunakan sebagai atribut teroris. Jilbab, jenggot, cadar adalah perintah dalam ajaran agama kami. Bukan simbol teroris. Jangan halangi kami menggunakannya. Jika pun mereka yang melakukan aksi pengeboman menggunakannya, jangan anggap semua yang menggunakannya sama. 

I'm moslem. I'm not terorist. 

*Tulisan menanggapi ketegangan beberapa hari ini. Wajah negeri dibayangi berita terorisme*
(Yaya Afifatunnisa, 150518)

Senin, 14 Mei 2018

Kagum pada Mereka yang Bisa Menyembunyikannya
Bahagia dan sedih.
Adakah yang tidak memilikinya?.
Tapi bukan itu yang terpenting. Apakah ada yang bisa menyembunyikannya?. Tabiat manusia adalah ingin dipahami. Ingin dimengerti. Ingin diakui. Ingin menampakkan. Ingin mengumumkan. Entah itu sedihnya atau bahagianya.

Bahagia biasanya ditampilkan untuk menunjukkan bahwa kita sedang tersenyum dan tertawa. kita ingin orang tahu senang sedang menghampiri. Ada karunia yang kita miliki. Singkatnya membagi ke orang lain bahwa kita lagi bahagia. Tapi tahukah kita bahwa di balik berita bahagia yang kita kumandangkan, bisa jadi ada hati yang bersedih karena tidak mendapatkan bahahia itu. Atau mungkin tertunduk karena bahagia itu yang dia impikan. Ada iri ada sedih yang bisa pelan bersemayam di dada orang lain. .

Kesedihan yang diumumkan. Untuk apa?. Supaya orang lain tahu sedih kita. Mendengar kisah kita. Tahu lara kita. Tahu sesak kita. Dan mengamini amarah kita. Kita ingin pengakuan orang lain bahwa kita memang pantas bersedih dan layak marah. Kita ingin didengarkan. Kita ingin dukung. Kita ingin orang lain menjadi tim hore atas apa sumber sedih itu. Sadarkah kita kalau ada di ujung sana orang yang tersinggung dengan ratapan kita. Atau bisa jadi sakit hati dengan setiap kata pembelaan yang kita smpaikan. Mungkin kita memang diposisi yang benar, tapi tetap saja hati orang lain mesti dijaga. Dari amarah, sakit, sedih, cemburu atau mungkin benci. 

Biarlah bahagia kita milik kita. Dan biarlah sedih menjadi rahasia kita. Cukup bahagia sewajarnya. Tampakkan selayaknya. (Juga) cukup sedih sepantasnya dan keluh seporsinya. Biarkan sumber sedihmu menikmati bahagianya. Percaya saja, sedih akan segera berputar jadi bahagia dan bahagia juga tak selalu ada di tempatnya. Suatu saat akan berganti.

Maka saya kagum. Pada mereka yang bisa menyembunyikan bahagia dan sedihnya. 😊😊😊. Adakah....??? #welpok #yaaffart#selfreminder

Sabtu, 12 Mei 2018

Mother - Drama tvN
Penyuka Drama? Atau jadi orang yang anti drama?. Kadang, ada yang baru dengar kata drama sudah bernegatif thinking. Pikirnya isinya selalu menjual romantisme aja. Atau berpikir “ahh lebay kalau suka drama”. Bener nggak sih?. Yuk, bagi yang masih saja negative thinking sama drama mari tak ajak nonton drama ini. Judulnya adalah “Mother”. Dari judulnya aja sudah tahu kan yah isinya mengulas apa?. Drama kali ini adalah remake dari drama jepang tahun 2010. Secara pribadi belum nonton drama jepangnya. Tapi kata teman juga daebak pokoknya. Dilihat dari judul sih, bisa ketebak, isinya akan menguras kantong. Maksudnya kantong mata :D. bener kan?. Ya iyalah. Salah satu hal, subjek, ataupun objek yang bisa meluluhlantakkan sebuah kekakuan adalah kata “Ibu”. Bukankah ini berarti memang perempuan itu diciptakan punya keistimewaan tersendiri?. Bersyukurlah menjadi makhluk bernama perempuan. Meski secara fisik lemah, tetapi secara perasaan, emosi, dan juga rasa, perempuanlah aktornya.

Saya tidak mengulas dengan detail tentang cerita dalam drama ini. Hanya ingin menyampaikan pesan-pesan yang bisa kupetik dari nonton drama ini yang butuh oleh nafas, olah hati, olah mata, dan juga olah waktu. Bener.. saya nggak bisa nontonnya sekaligus sampai habis. Mengapa? Nggak sanggup rasanya mata bengkak teraliri air mata yang menganak sungai. Tak sanggup harus mengolah emosi saat scene menyedihkan harus berjibaku memerankan sebagai seorang ibu dan seorang perempuan. Tak tega rasanya melihat setiap frame yang membuat pikiran juga bekerja, bagaimana bisa? Bagaimana jika saya?. Masih adakah terjadi di zaman begini?. 

Kisahnya bercerita tentang Kang So Jin yang meruaoakan seorang perempuan dewasa dengan karakter yang dingin, kaku, tetapi punya hati yang lembut. Karakternya dibentuk oleh kehidupannya yang menyedihkan dan selalu dia pendam. Sejak kecil tinggal bersama ibunya, namun suatu hari ia diminta memakan roti dan harus memakannya pelan-pelan sambil menunggu ibunya kembali. Tetapi tak sesimple itu, dia disuruh menunggu di depan pagar rumah dengan digembok pada rantai agar tidak kemana-mana. Pikiran masa kecilnya bahwa ibunya hanya akan pergi sejenak dan pasti kembali. Olehnya diapun memakan roti ditangannya sangat perlahan, namun ibunya tak kunjung tiba. Dia pun menangis sejadi-jadinya, dan saat itulah ia telah mengukir dalam dirinya bahwa ibunya telah menelantarkannya. Dia pun diadobsi oleh seorang artis terkenal . dia sangat disayangi dan diperhatikan. Demi melihat kondisi kang so jin yang awal diadobsi dan cerita tentangnya, sang ibu adobsi Young Sin pun mencela perbuatan ibu kandungnya yang dengan tega memperlakukan anaknya seperti itu. 

Kang So Jin dewasa adalah seorang peneliti senior tentang burung. Dia sangat mencintai burung, buku, kamera, dan juga antartika. Dia sangat terobsesi bisa ke bagian kutub bumi meneliti tentang burung. Hidupnya yang terlihat bahagia bersama orang kaya, ternyata tidak membuat ia lupa tentang ibu kandungnya. Jauh di dasar hatinya ia masih bertanya-tanya mengapa ibunya tega memperlakukannya seperti itu, dan meski sedih dan tidak terima diperlakukan seperti itu oleh ibunya tetapi pada dasarnya dia masih mencari dan merindukan ibunya. Hingga ia terlibat pada penculikan anak usia 7 tahun Hye Na yang ditelantarkan juga oleh ibunya. Nuraninya kemudian menjadi tertarik untuk menolong anak tersebut keluar dari ketertindasannya. Hye Na anak yang tidak diperhatikan oleh ibu kandungnya. Ia sering dipukul bahkan oleh kekasih ibunya. Perlakuan ibunya pun membentuk karakter Hye na menjadi pemurung, berperilaku terbalik, pandai menyembunyikan setiap kesedihannya, juga ketertinggalannya di sekolah pada pelajaran. Awalnya yang amat peduli pada Hye Na adalah guru konselingnya, karena Kang So Jin pernah menjadi wali kelas sementaranya, Kang So Jin pun mulai terlibat dan tertarik dengan kehidupan Hye Na. Dengan melihat kondisi Hye Na yang sangat memprihatinkan sampai di bungkus di kantong sampah dan dibuang di tempat sampah, rasa iba dan juga naluri keibuan serta rasa senasib membuat So Jin, menolong Hye Na dan berniat membawa pergi Hye Na keluar Negeri. ‘cerita pun makin pelik, apalagi setelah So Jin mengetahui dan ketemu kembali dengan ibu kandungnya. Rasa sakit ditelantarkan oleh ibunya kembali hadir dan semakin memperkuat keinginannya membawa pergi Hye Na yang dia anggap cerminan dirinya dahulu. 

Mengetahui bahwa Kang So Jin telah mengetahui ibu kandungnya, membuat ibu angkatnya merasa marah sekaligus khawatir. Marah karena mengingat bagaimana dahulu ia bisa menelantarkan So Jin. Bagaimana bisa ada seorang ibu yang tega kepada anaknya sendiri. Dan Khawatir karena dengan hadirnya kembali ibu kandungnya, jangan sampai perasaan Kang SO Jin bisa giyah untuk kembali ke ibu kandungnya. Ia takut kehilangan So Jin. Bagaimana selanjutnya…? Silahkan disimak sendiri setiap episodenya. Pokoknya recommended. Hanya saja kalau nonton siapin aja tussue ya :D. 

Apa yang ingin saya simpulkan?. Drama ini menyentil kita dengan sensasi kemanusiaan utamanya sebagai orang tua, khususnya ibu. Meski kita tahu bahwa sejarah telah mencatat bahwa ada kisah ibu yang tega pada anaknya, dan sebaliknya ada anak yang teramat tega kepada ibunya, tetapi sebagai manusia yang pasti Allah telah menganugerahi sensitifitas kemanusiaan kepada kita, tentulah punya empati, simpati, kasih saying, belas kasihan, dan juga perhatian. Hanya saja terkadang segala rasa itu tertimbun oleh ego sesaat. Tetapi, yang namanya ibu tetaplah ibu dengan nurani keibuaannya. Dan anak tetaplah anak dengan nurani keanakannya. Sebenci apapun, sekeras apapun, sekasar apapun, sekejam apapun pernah ada kisah yang memperjauh kedekatan, merampas kebersamaan, dan menikam kebahagiaan, tentu ada alasan di baliknya. Dan boleh jadi alasan itu hanyalah sesaat yang suatu waktu akan menjadi penyesalan. 

Ibu tetaplah ibu dan anak tetaplah anak. Jangan pernah membenci ibumu. Jangan pernah membenci anakmu. Entah sebagai ibu atau anak. Dan karena secara Rahim (kandung) atau karena lahir (asuh).

Palopo, 120518
Euforia Hijrah
Euphoria jilbab syar’i ternyata benar-benar berkembang sporadis. Hamper di setiap tempat dan sudut kita akan menemukan perempuan dengan gamis syar’I plus jilbabnya. Jika sebelumnya menggunakan jilbab yang rada gede itu membuat khawatir tidak diterima oleh masyarakat. Sekarang malah sebaliknya. Yang tidak berpakaian syar’I lah yang tidak enak hati. Terlepas dari niatnya apa atau yang lainnya. Yang wajib disyukuri adalah keadaan ini telah memberikan kenyamanan pada mata ketika memandang. Dan nilai plusnya lagi bagi penggiat usaha, ini menjadi lahan bisnis yang empuk. Lihat saja, yang berseliweran di social media adalah pakaian syar’I beserta turunannya. Mulai dari gamis, jilbab, kaos kaki, ciput, bandana, handshock, bahkan sampai pentul.

Kondisi ini tentu menyulam sebuah harapan baru bagi negeri ini. Bahwa kedepannya generasi muda Indonesia akan terselamatkan dari gaya pakaian yang semakin mengumbar aurat. Dan semoga turunan dari pakaian syar’I ini pun bisa terwujud. Apa turunannya? Tentu ke akhlak, tentu ke sikap, tentu ke idealism, dan tentu juga dengan prinsip. Meski banyak yang menyayangkan rasa “holistic” yang kemudian berkurang dan bergeser. Maksudnya apa?. Ketika dahulu yang berjilbab besar itu benar berjilbab dengan segala ilmu yang diterimanya dalam tarbiyah, sekarang bahkan bisa kita temukan yang berjilbab besar bahkan yang bercadar tanpa pernah mengikuti proses tarbiyah. Kasarnya mungkin karena ikut-ikutan. Tingkatan diatasnya karena merasa terpanggil, dan tingkatan diatasnya lagi karena maraknya tarbiyah online. Sebenarnya tidak salah, hanya saja lebih baik sebelumnya benar-benar diilmui. Benar bahwa kaidah perintah itu adalah “sami’na wa atha’na”, tetapi sam’ yang dimaksud adalah sami’ yang benar-benar sami’. Sami’ yang diilmui. Supaya apa? Supaya yang dilaksanakan itu benar-benar diketahui hukumnya, dan juga siap dengan segala konsekwensi atasnya. 

(misalnya) jilbab besar yang dipakai, atau cadar yang digunakan, tidak hanya sekedar dipakai, tetapi mesti diilmui apa hukumnya. Kenapa harus digunakan jika ingin digunakan, dan apa konsekwensinya?. Jika cadar digunakan hanya sebagai sebuah gaya trend masa kini, dikhawatirkan akan ada masa cadar menjamur, tetapi ketika masanya juga akan ramai-ramai dilepaskan. Bukankah itu akan menciderai citra cadar, dan menciderai mereka yang bercadar dengan kesungguhan. Bukan trend yang kita harapkan dari sebuah perubahan, tetapi pemahaman yang diikuti oleh kesungguhan yang kita harapkan. Bukan nyinyir pada mereka yang ramai-ramai bersyariat missal bercadar, justru dengan kondisi ini menjadi obat bagi mata dan juga obat bagi pergaulan yang mencemaskan. 

Apa yang perlu diantisipasi dari keadaan ini?. Pertama, mesti dibuktikan bahwa keadaan ini bukanlah sporadic. Tetapi ini adalah kondisi yang akan permanen. Buktikan bahwa kondisi ini bukanlah sebuah trend yang kelak akan hilang seiring timing yang sudah habis. Tetapi perlihatkan bahwa keadaan ini akan tinggal dan continue. Bagaimana caranya?. Nah ini yang menjadi poin kedua. Bagaimana agar kondisi menjadi permanen, atau paling tidak akan berkelanjutan, tidak langsung hilang dan manjdi sejarah, adalah dengan memahatnya di hati pelakunya. Jalan ini akan lebih baik ditempuh dengan jalan tarbiyah. Atau sederhananya adalah dengan diilmui. Bukankah memang segala sesuatu perlu diilmui baru diamalkan?.

Maka mari benahi kondisi saat ini. Giatkan mengkaji, giatkan mengilmui, ramaikan majelis ilmu, sambangi pakarnya, cari ilmunya, tekadkan keinginan, dan paling penting lagi dari semua itu adalah perbaiki niat. Mengapa? Amal memang perlu ilmu, tetapi amal tergantung lagi pada niatnya. Apa niat berhijrah? Apa niat bersyariat? Apa niat merubah tampilan?. Sudahkah karena Allah?. Jika belum karena Allah, tak mengapa, jangan langsung mundur, tetapi perbaiki niat. Terkadang memang sebuah kebaikan diawali dnegan keterpaksaan. Dan juga terkadang alasan berhijrah itu dikarenakan perkara yang menggelikan. Entah karena telah kehilangan, entah karena patah hati, entah karena diberi penyakit, entah karena ingin didekati, entah karena dia, entah karena mereka, entah karena supaya, entah karena agar. Apapun itu, tak mengapa biarlah semua diawali dengan keterpaksaan dan kelebay-an, mungkin itu adalah jalan penghubung menuju niat karena-Nya. Kelak, kita akan lupa pada alasan-alasan itu. Dan apapun itu awalnya, bukankah Allah melihat prosesnya dan melihat akhirnya? Dan apapun alasan yang pernah dipunyai, Allah selalu memaafkan.
Yang Manakah Engkau?
Yang aku tahu. Ada dua jenis manusia di bumi ini. Hanya ada dua. Sungguh. Tak lebih.

Bukan pendosa dan orang suci. Karena lazimnya sulit mencari kebajikan yang murni, ataupun kejahatan yang sama sekali tak berbelas kasih.

Bukan yang kaya dan yang miskin. Sebab untuk membedakan keduanya kita harus tahu kelimpahan nurani dan kesehatannya.

Bukan yang rendah hati dan si sombong diri sepanjang kehidupan. Siapapun yang sombong takkan lagi dianggap sebagai manusia.

Bukan yang bahagia dan yang bersedih hati. Karena tahun-tahun yang lewat membawakan tawa silih berganti dengan duka bagi setiap manusia.

Tidak...
Dua macam manusia yang kita bicarakan adalah mereka yang mengangkat dan mereka yang membebani. Dengan kedua jenis ini kita berjumpa, kemanapun kita pergi. kita bahkan merasa akan hanya ada seorang pengangkat untuk setiap duapuluh orang yang membebani.

Termasuk yang manakah engkau?. Apakah kau meringankan beban, bagi para pengangkat yang lemah?. Ataukah engkau seorang penyandar, yang mana sesama kau biarkan ikut merasakan tanggungan, kekhawatiran, masalahmu atau bahkan engkaulah yang membawakan segala duka dan derita untuk memberati pundak-pundak mereka?

(Ella Wheeler Wilcox, Dalam Dekapan Ukhuwah)

Selasa, 08 Mei 2018

Ke Allah Segalanya Bermuara
Iya... kemanapun melangkah. Dalam perjalanan menuju manapun. Dalam keadaan bagaimanapun. Dalam harapan apapun. Semua tetap saja bermuara ke Allah. DIA-lah tempat kita kembali. Kembali dalam hakikat raga. Juga kembali dalam hakikat jiwa. Tak ada tempat bersandar selain-Nya. Tak ada tempat berharap selain-Nya. Tak ada tempat meminta kecuali-Nya. Dan tak ada yang bisa menjaga selain-Nya. Tak ada yang bisa membolak-balikkan hati dan memantapkan sebuah hati, kecuali-Nya. Dan tak ada yang bisa memungkinkan segalanya kecuali-Nya. 

Maa fi qalbi ghairullah
Ketika Perempuan Menangis

Ketika wanita menangis, bukan berarti dia mengeluarkan senjata terampuhnya. Melainkan dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya. Ketika wanita menangis, Bukan berarti dia tidak berusaha menahannya. Melainkan karena tembok pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air mata. Ketika wanita menangis, bukan berarti dia ingin terlihat lemah. Melainkan karena dia sudah tidak sanggup lagi berpura-pura kuat. Mengapa wanita menangis?. Karena wanita juga seorang manusia yang memiliki hati dan perasaan. Hati dan perasaan yang harus dimengerti dan dijaga. Kami tidak menuntut banyak, kecuali pengertian. Kadang kami terlihat manja, banyak maunya. Atau mungkin di mata laki-laki seperti kalian kami ini hanyalah makhluk yang menyusahkan. Tapi ketahuilah, kami masih berdiri tegar meski kalian telah menghantam hati kami dengan rasa sakit yang mendera. Kami masih tetap menjadi orang yang sama ketika kalian pergi dan menghindar lantas datang kembali membawa asa. Meski kami terlihat tidak peduli, Meski kami terlihat mengacuhkan. Tapi percayalah jauh di lubuk hati kami, kami mempunyai sejuta do’a untuk kalian.

Mengapa Perempuan mudah menangis?. Memangnya kenapa harus menangis? cengengkah?. Atau apakah airmatanya hanya tipuan?. Atau hanya cari perhatian?. Atau hanya menyusahkan? atau hanya mengganggu?. Ketahuilah.. bahwa airmata bagi perempuan bukan hanya sekedar tetesan air keluar dari kelopak matanya, tetapi saat itu dia sedang berjuang. Berjuang menahan segala yang membuncah di hatinya. Menahan agar ia bisa melinierkan perasaannya. Dan berjuang menggunakan senjatanya. Sebab, jika air matanya yang tertumpah telah usai membanjiri, tunggulah dia akan tertawa kembali dan bangkit kembali. Dia akan tetap tersenyum padamu. Wajahnya akan kembali seperti sedia kala. dan tangannya tetap saja terulur, tetapi tahukah di dalam hatinya seperti apa?. perempuan amat pandai menyembunyikan kebenaran. Ia pun pandai membuat orang yakin dia baik-baik saja. Dan dia masih juga baik padamu, bahkan seolah kemarin itu tak pernah ada. 

Perempuan seperti itu, dia mudah memaafkan. Dia mudah memberi senyuman. Dia mudah meyakinkan. Karena setelah airmata selalu ada senyumannya. Hanya saja yang perlu diingat, bahwa "Al Mar'atu Kal Mir'ah". Pikirkanlah... renungilah.. jika hatimu masih bisa merenung. 
Sumber Kecewa
Apakah sumber kecewa itu?
Tahukah kau?.
Kamu tahu sumber kecewa?
Apa itu?
Hati yang terlalu berharap kepada manusia.
Seseorang hadir, kemudian pergi
Jangan sesali
Dia adalah kenangan dan juga pelajaran
Perpisahan,
Penolakan,
Keduanya mengajarkan:

Manusia akan pergi meninggalkan
Tetapi, Allah tidak
Allah akan selalu bersamamu

Kamis, 03 Mei 2018

Sabar dan Kemenangan
Ibnu Qayyim berkata:
“Sesungguhnya Allah Ta'ala menjadikan sabar sebagai kuda tunggangan yang tak kenal lelah, pedang yang tak pernah tumpul, prajurit yang pantang menyerah, benteng kokoh yang tak bisa dihancurkan dan ditembus. Sabar merupakan saudara kandung kemenangan. Di mana ada kesabaran, di situ ada kemenangan.”

Maka bersabarlah....